Pulih

Seseorang pernah bilang ke saya, bahwa maaf itu bukan hanya tentang mendapatkan permintaan maaf dari mereka yang pernah menyakiti kita. Lebih dari itu, sebenarnya maaf memiliki berbagai bentuk.

Dimulai dari yang paling dekat, yaitu memaafkan diri sendiri — atas pilihan hidup yang mungkin kurang tepat atau atas kegagalan-kegagalan yang berujung pada sebuah pembelajaran dan hikmah. Memaafkan bahwa diri kita tidak sempurna dan oleh karena itu akan berbuat salah, satu atau dua kali, hari ini atau besok. Selain orang lain, mungkin yang paling membutuhkan maaf itu adalah diri kita sendiri. Mungkin jauh sebelum menyakiti orang lain, kita terlebih dulu menyakiti diri sendiri. They say, “hurt people hurt others” jadi mulailah dengan diri sendiri sebagai awalan yang sangat penting.

Namun yang tidak kalah sulit adalah menerima ucapan maaf dari orang lain atas perkataan atau perbuatan yang pernah menyakiti. Tidak ada yang bisa memastikan atau pun menjamin kapan kata maaf itu akan tiba, tapi kita selalu bisa memulainya sendiri.

Saya memaafkan kamu,” walaupun kata maaf itu belum pernah terucap dari mereka dan mungkin tidak akan pernah terucap.

Karena diri kita sendiri membutuhkan kedamaian yang hanya bisa diperoleh setelah memaafkan. Bukan untuk dia. Bukan sekedar mengampuni. Bukan juga persoalan tentang ego. Tapi demi tidur yang lebih nyenyak, demi hati yang lebih lapang, demi pikiran yang lebih jernih, dan demi tarikan nafas yang lebih lega. For the sake of being free.

Memaafkan ini tidak selamanya soal mendapatkan maaf, melainkan juga tentang memberi maaf. Bukan, bukan untuk dia yang salah, tapi untuk kebaikan diri sendiri. Berbicara seperti ini tidak menjadikan saya seorang guru karena saya pun masih belajar. Setidaknya saya butuh waktu enam bulan hanya untuk mencerna konsep ini dan mungkin untuk menerapkannya dengan baik butuh waktu tahunan. Sebelumnya, hati saya keras bahwa kata maaf itu perlu hadir agar saya bisa memulai — itu pun jika saya menerima permintaan maafnya. Pendirian saya tegak, keputusan saya bulat, bahwa mereka yang pernah menyakiti saya tidak bisa mendapatkan kata maaf sebelum mereka yang memulai.

Memaafkan ini menurut saya adalah sebuah gerbang menuju tujuan akhir saya, yaitu menerima. Tanpa memaafkan, mungkin saya tidak akan pernah sampai di tujuan akhir tersebut. Mungkin saya hanya berputar di tempat yang sama atau bahkan kehilangan arah karena saya terlalu sibuk menunggu hadirnya kata maaf.

Menulis ini, saya sepenuhnya sadar bahwa saya juga pernah ada di posisi orang yang menyakiti. Entah itu bulan lalu, tahun lalu, atau mungkin 10 tahun lalu. Baik itu kepada teman atau orang yang tidak saya kenal baik. Sebelum mulai memaafkan orang lain, saya paham bahwa saya juga memiliki tanggung jawab untuk mengetuk hati orang lain dan memberikannya kata maaf. Beberapa sudah pernah saya lakukan dalam dua tahun terakhir dan ada yang baru saya lakukan akhir-akhir ini. Maaf ya, kata maaf itu mungkin datang terlambat.

Sulitnya, maaf ini bukan sebuah kemampuan atau skill yang dapat melekat untuk waktu yang lama. Tidak ada tutorial atau panduan untuk memaafkan, yang ada hanya bagaimana pentingnya memaafkan. Tidak ada tips atau trik yang cocok untuk semua orang karena memaafkan ini sifatnya sangat personal. Penerapannya juga tidak bisa dipukul rata; mungkin ada satu kesalahan yang mudah untuk dimaafkan dan mungkin ada luka yang terlalu dalam. Boleh jadi saat ini kita dapat berbesar hati untuk memaafkan, tapi tidak ada yang bisa menjamin apakah hal ini akan tetap berlaku bertahun-tahun dari sekarang.

Orang yang sama juga bilang pada saya, bahwa memaafkan itu tidak sama dengan rekonsiliasi. Saya bisa memaafkan seseorang dan tidak perlu berkomunikasi lagi dengannya. Saya juga bisa memaafkan dan kembali berhubungan seperti sebelumnya. Tapi dia luput akan satu hal; bagaimana kalau saya justru sangat berharap bahwa hal yang menyakitkan itu tidak pernah terjadi, sehingga tidak perlu ada kata maaf?

© Asiila Kamilia — South Sulawesi, 2019

What is life, if not a series of acceptance? Mungkin nanti saya akan sampai di tujuan akhir tersebut, entah itu satu tahun atau beberapa tahun kemudian. Mungkin perjalanan ini juga akan maju-mundur, tapi saya akan selalu menyediakan waktu untuk proses pemulihan ini dan semoga saya selalu ingat bahwa saya tidak akan bisa pulih sebelum bisa memaafkan. Terselip doa serenity prayer yang saya panjatkan saat sesak itu hadir, berharap maaf ini dapat menjadi gerbang pembuka pada penerimaan sebagai tujuan akhir saya.

Kalau memang maaf itu tidak akan pernah hadir, maka saya akan beranggapan bahwa maaf itu terucap dengan sangat lirih sehingga terlalu rapuh untuk saya dengar.

And for that, someday I will forgive.

--

--

--

Ode to every remnant of what once was.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Aksara Laut

Aksara Laut

Ode to every remnant of what once was.

More from Medium

Perspective….

#JustStart

Capstone — Week 9