© Asiila Kamilia — Viet Nam 2020

“Tuhan bila waktu dapat ku putar kembali…”

epenggal lirik yang saya yakin dapat mewakili perasaan kita selama beberapa waktu terakhir. Jika Doraemon nyata atau jin Aladdin bukan sekedar fiksi, saya rasa permintaan atas mesin waktu menjadi prioritas bagi kita semua. Mungkin untuk sekedar menengok kenangan lama atau menyapa seseorang di masa lalu. Bisa jadi untuk mengambil pilihan hidup yang berbeda, untuk mencegah kepergian seseorang, untuk membatalkan suatu kesalahan, atau untuk mencintai dan memeluk sekali lagi. Apapun itu tujuannya, doa untuk memutar waktu ini seringkali kita panjatkan ke langit, berharap dikabulkan meski hati kecil kita tau jawabannya.

Mungkin sejatinya, banyak hal yang kita lalui mengandung unsur kehilangan; seperti kehilangan anggota keluarga, banyak yang kehilangan mata pencaharian, ada yang kehilangan kesempatan, beberapa orang dewasa kehilangan masa kecilnya, sebagian jiwa kehilangan rasa percaya, dan ada relasi yang kehilangan nyawa. Masing-masing dari kita mengalami berbagai macam jenis kehilangan sehingga rasanya terlalu berat beban yang dipikul. Raungan pertanyaan tidak kunjung henti dipanjatkan kepada Pencipta; Tuhan, bisa kah aku putar kembali waktu? Sekali ini saja. Kadang kita begitu keras, padahal jawabannya sudah ada. Keterbatasan kita untuk mengulang kembali waktu seharusnya dapat mengajarkan kita banyak hal; mulai dari lebih menghargai seseorang hingga mengajarkan kita bahwa kehilangan adalah hal paling menyedihkan yang dapat kita alami karena kita tidak akan pernah mendapatkannya kembali. This is the thing about loss, when you lose something, or someone, I guess we can never really get it back. What might happen is we find something new, perhaps a replacement. Other times, what is lost is just lost and we are left with a journey of acceptance.

Ah… people always talk about acceptance and how to liberate yourself from regret, how to recover from loss. Nobody really talks about this painful reality behind the glorifying acceptance. That it’s ugly, it’s not poetic at all, it’s a horrifying roller-coaster ride, it’s messy, it’s uncertainty, and God knows how difficult it can be. Bahwa sebelum bisa menerima kehilangan, ada masa-masa sulit yang wajib dilalui, tidak perduli seberapa besar privilese yang mungkin sebagian dari kita miliki. Masing-masing dari kita pun menghadapi kehilangan ini dengan cara yang berbeda. Ada teriakan yang diredam bantal, ada tangisan lelah jam 2 pagi, ada yang menenggelamkan dirinya di lautan kesibukan. Saya sendiri tidak tahu bagaimana cara yang bijak dalam menyikapi kehilangan, tapi yang pasti hal tersebut harus dihadapi dan saya terlambat menyadarinya. Alih-alih duduk dan menghadapi, saya justru angkat kaki dan kabur dengan pikiran sesat bahwa saya akan sembuh jika saya tidak lagi memikirkan kehilangan tersebut. Perjalanan saya hanya sebatas penolakan besar-besaran atas kehilangan yang saya alami dan bermain petak umpat dengannya. Sehingga pada akhirnya benak saya pun berontak dan bertanya, “bagaimana bisa menerima jika menghadapi saja pun tidak mampu?”

Saya bukan motivator dan tulisan ini bukan golden ways. Seperti jutaan jiwa lainnya, saya sedang sedih dan melukiskan guratan tersebut ke dalam tulisan ini. Dengan sengaja, saya ingin merasakan kesedihan ini, pilu demi pilu. Tanpa menghindar, saya ingin memeluk lara ini. Sudah terlalu jauh saya berlari dan terlalu lama saya bersembunyi dari rasa sedih atas kehilangan yang ada. Terlalu sering saya menjalani hari seolah-olah sendu itu tidak ada, menguburnya sedalam mungkin ketika rasa itu berusaha mencubit amigdala. Sudah tiba saat dimana saya harus menghadapinya dengan cara saya sendiri, seperti lewat tulisan ini.

Sepertinya luka batin memiliki kemiripan dengan luka fisik. Seperti pisau yang menancap di tubuh, tidak ada yang bisa sembuh hanya karena mengguyurkannya dengan obat. Perlu kesadaran bahwa ada bagian dari tubuh kita yang terluka. Kemudian diperlukan juga kekuatan untuk mengenali perasaan yang muncul dari luka tersebut dan merasakan setiap jeritannya; sakit, perih, ngilu. Kemudian proses penyembuhan itu dimulai dengan mencabut pisau. Sebagian dari kita butuh proses yang perlahan namun tidak sedikit juga yang memilih untuk mencabutnya tanpa ampun. Bagaimanapun caranya, pisau itu harus diangkat dan disitulah masa-masa tersulit akan terjadi. Meskipun demikian, hanya dengan proses ini lah luka bisa diobati dengan baik dan menjemput kesembuhan di kemudian hari. Jauh melampaui rasa bahagia, keikhlasan dan penerimaan lah yang menjadi tujuan akhir saya. Layaknya sebuah perjalanan, mungkin saya harus melalui duka ini sebagai bagian dari perjalanan tersebut dan saya ingin merasakannya secara utuh, berhenti dari pelarian panjang, keluar dari persembunyian sunyi.

Mereka bilang, “it gets worse before it gets better.” Sayangnya, mereka tidak tahu sampai kapan duka itu bertahan. Kemampuan kita menghadapinya juga di luar pengetahuan mereka. Apakah kita akan berhasil melaluinya juga tidak mungkin pernah bisa mereka janjikan. Mungkin esok lusa saya bisa merasa lebih baik atas ini semua dan mulai merajut kembali harapan. Mungkin di kemudian hari, saya akan memahami akar dari duka ini apa. Namun sebelum itu, biarkan saya menikmati petikan lara ini.

Ode to every remnant of what once was.

Ode to every remnant of what once was.