Kisah Punggung Nenek dan Analogi tentang Cinta

Asiila Kamilia — Jakarta, 2021

Ada kisah tentang seorang nenek yang menghabiskan hidupnya tidur di bawah jembatan dengan hanya beralaskan tikar. Jika ada berkah berlebih dari tetangganya yang merupakan seorang pemulung, dia bisa sedikit berbahagia dengan sebuah alas tambahan: kardus tebal bekas dari toko. “Asal jangan hujan… kalau basah ya gak bisa jadi alas,” katanya dengan ringan, seolah punggungnya sudah bersahabat dengan kerikil dan aspal. Hidup nenek berubah ketika seorang dokter muda datang dan mengemban tugas penelitian di sekitar tempat tinggal nenek. Dokter tersebut kemudian menempatkan nenek untuk tinggal di salah satu fasilitas khusus lansia milik pemerintah. Tikar dan kardus nenek pun berubah menjadi sebuah tempat tidur lengkap dengan kasur, bantal, guling, dan selimut yang layak. Tidak perlu lagi khawatir dengan hujan karena nenek tidur dengan atap yang kokoh di atasnya dan tembok yang hangat di sekelilingnya.

Pada suatu pagi, dokter datang untuk mengunjungi nenek dan menemukan nenek tertidur dengan pulas di lantai tepat di sebelah tempat tidur. Nenek bilang, ia sudah mencoba untuk tidur seperti orang normal pada umumnya; kepala di atas bantal, memeluk guling, dan dibungkus selimut. Namun punggungnya sakit dan tidurnya tidak nyenyak, sehingga ia memutuskan untuk berbaring di lantai dengan beralaskan kain tipis — sesuatu yang lebih familiar bagi tubuh tua dan ringkihnya. Dari alasan medis hingga logika sederhana, dokter mencoba untuk memberi tahu nenek bahwa kasur yang disediakan memiliki fungsi yang lebih baik untuk menopang punggungnya selama ia tidur dibandingkan dengan lantai yang keras dan dingin. Terutama melihat kondisi tubuhnya yang sudah tua renta sehingga lebih rentan terhadap penyakit. Namun bagi nenek, kenyamanan yang ia kenal selama bertahun-tahun adalah alas yang keras. Mungkin tubuhnya sudah berdamai dengan rasa sakit itu. Tidak ada satu pun tempat tidur mahal, selimut kasmir, atau bantal bulu angsa sekalipun yang dapat mengubah hal tersebut.

Asiila Kamilia — Semarang, 2021

Bukankah kisah nenek adalah kita yang sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat? Persahabatan antara punggung nenek dan kerasnya aspal adalah setiap lebam dan luka di mata, lengan, pipi, serta perut yang sudah akrab dengan baju lengan panjang atau riasan wajah yang tebal. Saat pagi dimana nenek bangun dengan punggung yang sakit namun tetap kembali pada tikar yang sama di malam hari adalah ketika kita berulang kali memaafkan sebuah perselingkuhan sebab dia sudah memberikan maafnya yang paling tulus dan menjanjikan pengharapan atas masa depan yang lebih baik; sebuah rekonsiliasi yang semu sebab kesalahan itu akan berulang. Bohong yang terungkap terasa seperti nenek yang cukup berbahagia atas malam-malam dengan kardus baru dan langit yang cerah — setidaknya dia sudah minta maaf bahkan hingga menangis, sebuah bukti penyesalan yang sah. Seketika dia berubah menjadi pengemis; meminta-minta kesempatan kedua, ketiga, hingga kesempatan itu tidak ada artinya lagi. Kamar yang hangat dan kasur empuk adalah orang lain yang datang ke hidup kita dengan niat dan tujuan baik, namun kita merasa bosan dan menganggapnya tidak menarik karena kenyamanan yang kita tahu bagaikan tikar dan aspal nenek; yakni hubungan tidak sehat dengan segala emosi yang tidak stabil. Bagimu, berdamai dengan situasi dan menerima maafnya lebih mudah dibanding lari dan pergi dari hubungan itu. Mungkin kamu tidak sanggup menjalani hari-hari sendirian, mungkin kamu yakin bahwa suatu hari dia akan berubah, mungkin kamu hanya mencoba mempertahankan hubungan yang sudah menahun, atau mungkin kamu hanya ingin anak-anakmu tumbuh di keluarga yang utuh. Meskipun hatimu runtuh ripuh dan cahaya matamu redup. Saya tidak akan pernah bisa memahami alasan dan pengharapan kuat ini. Darimana kekuatan itu berasal? Mungkin tubuhmu sudah terlalu terbiasa dengan konflik berat yang hadir secara konsisten, sehingga rasa aman yang diberikan orang lain justru terasa asing sebab otak dan syaraf kita tidak terbiasa diperlakukan dengan baik. Maka jangan pernah coba-coba bertanya apa itu cinta karena jawabannya adalah proses menambal luka dan bertahan pada sesuatu yang lebih banyak menyakiti. Dalam kamus kita, cinta adalah usaha dan dorongan untuk menjadi lebih baik karena selalu merasa tidak cukup, bukan atas keinginan untuk bertumbuh dan berkembang bersama.

Bukankah kita bisa belajar dari nenek? Selama hidupnya, nenek tidak memiliki pilihan lain. Uangnya terbatas, usianya tidak lagi muda, dan hidup sebatang kara. Kardus tebal pun merupakan hasil iba dari pemulung dan bermodal welas asih dari Tuhan supaya tidak mengguyurkan hujan lebat di jembatan tempat nenek tidur. Dokter yang mencoba memberikan kasur, bantal, guling, dan selimut adalah setiap saran dari teman dan saudara yang akhirnya kita lupakan begitu saja. Saya tidak tahu siapa yang akan membaca tulisan ini — mungkin masih usia remaja atau bisa jadi sudah dewasa, sudah menikah atau masih lajang. Saya, atau dokter di kisah nenek, tidak mungkin bisa mengambil keputusan atas orang lain, sekalipun saya bersedia untuk membantu kabur dari hubungan yang menyakitkan tersebut. Bila definisi cinta yang kamu pahami lebih banyak mengandung luka dan minim rasa hormat serta mengandung relasi kuasa yang tidak setara, maka tidak ada perkataan maaf, tetes air mata, atau janji sebanyak apapun yang cukup untuk menyembuhkan lara itu, melainkan pergi selagi mampu, selagi ada waktu. Mungkin kamu sangat sayang, mungkin kamu terlalu baik, mungkin arti cinta yang kamu pahami hanya sebatas alas tikar dan aspal.

Omar Majid — Banten, 2021

Bukankah kemudian nenek berharap? Seperti orang tua kebanyakan, agar anak dan cucunya tidak mengalami hal yang sama. Agar anak dan cucunya dapat mengambil pelajaran serta makna dari kisahnya tanpa perlu merasakan sakit selama bertahun-tahun seperti apa yang dirasakan tulang dan punggung nenek. Andaipun masuk ke dalam hubungan yang tidak sehat, semoga cerita nenek terlintas di benak, semoga langkah kakimu penuh keberanian, dan hatimu teguh. Pada akhirnya, kita mendefiniskan cinta sebagaimana kita mengalaminya. Maka jangan biarkan lebam dan cacian itu langgeng di tubuhmu sebab hadiah dan janji bukanlah sebuah obat. Maka di bulan penuh kasih sayang ini, ulangi sebuah doa yang dipanjatkan Dewi Lestari dalam novelnya: “Tuhan, jika nanti aku jatuh cinta pada yang baik, jatuhkan aku sejatuh-jatuhnya.” Maka jangan heran jika kamu melihat orang yang sedang berbahagia dalam hubungannya. Boleh jadi dia baru mencintai dan dicintai secara sehat. Boleh jadi hubungannya hangat dan dipenuhi rasa aman.

Boleh jadi dia baru menemukan kasurnya.

Catatan: cerita nenek adalah kisah nyata.

--

--

Ode to every remnant of what once was.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store